Junk Food Bisa Buat Depresi, Kok Bisa?

Junk Food Bisa Buat Depresi, Kok Bisa?

PrimaDaily – Makanan rendah gizi atau yang biasa disebut juga dengan junk food sering dikaitkan dengan resiko kesehatan tubuh bahkan disebut rentan buat depresi. Padahal jenis-jenis makanan junk food seperti gorengan, makanan daging yang diproses, ataupun makanan kalengan sering diburu oleh orang-orang. Selain karena terkenal praktis, makanan-makanan tersebut juga sangat mudah anda dapatkan. Lalu sebenarnya apa penyebabnya?

Sebuah penelitian yang telah terbit dalam jurnal Molecular Psychiatry pada tahun 2018 mengungkapkan jenis makanan rendah gizi berkaitan dengan resiko depresi.

Hubungan antara junk food yang bisa buat depresi berletak pada jenis makanan yang mengandung banyak zat yang pro-inflamasi. Mengutip dari The Guardian, Dr Camille Lassale menyebutkan pola makan yang pro-inflamasi mampu memicu peradangan sistemik dan hal ini bisa secara langsung meningkatkan resiko depresi.

Baca Juga: Tips Mudah Dalam Menahan Godaan junk Food

Selain itu penelitian dari University College London juga turut menambahkan bahwa pola makan buruk ternyata bisa meningkatkan resiko depresi secara signifikan. Makanan yang mengandung banyak lemak atau gula maupun makanan-makanan yang terlalu lama d!masak bisa menyebabkan peradangan. Adapun peradangan tersebut bukan hanya terjadi pada usus akan tetapi bisa terjadi ke seluruh tubuh.

Seorang ahli depresi dari Royal College of Psychiatrists menuturkan sifat kimia dalam usus sangat mirip dengan kimia pada otak. Oleh sebab itu tidak mengherankan lagi bila hal-hal yang mempengaruhi usus bisa juga mempengaruhi otak.

Sementara itu peradangan semacam ini bisanya yang dpicu oleh karena situasi pola hidup yang buruk. Misalnya kebiasaan merokok, polusi kegemukan, serta jarang berolahraga. Meski begitu, para peneliti juga mengingatkan hubungan keduanya yakni antara pola makan yang buruk dengan depresi merupakan sebuah kausal. Jadi bukan hanya sebuah asosiasi.

Temuan yang dilakukan oleh Dr Camille Lassale, hasil penelitiannya adalah longitudinal yang mana dalam proses penelitian tidak melibatkan orang dengan depresi pada awal penelitian. Oleh karena itu penelitian tersebut telah melihat bagaimana pola makan pada dasarnya berhubungan dengan kasus depresi baru.